Saturday, April 26, 2008
refleksi pribadi saphire calista(21)
o Setelah wawancara ini, saya jadi tahu kalau ternyata tidak ada pekerjaan yang mudah,walaupun mungkin pekerjaan itu kita anggap biasa-biasa saja. Namun setelah saya bertemu dengan Anti,saya menjadi percaya bahwa bila kita melakukan pekerjaan itu dengan sepenuh hati,maka pasti pekerjaan itu akan menjadi menyenangkan.
o Selain itu, saya menjadi sadar bahwa kita harus mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kita, seperti Anti yang mensyukuri pekerjaannya walaupun ia hanya bekerja sebagai seorang cleaning service.
o Saya juga menjadi sadar bahwa kita harus bisa lebih menghargai orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Anti bahwa banyak dari customer yang memakai toilet tidak menghargai dia,banyak customer yang suka membuang tissue bekas sembarangan,ataupun mengejek dia. Padahal menurut saya Anti adalah orang yang berjasa bagi kita,kalau tidak ada Anti,pasti toilet akan menjadi amat kotor dan tidak nyaman untuk dipakai.
Itulah pelajaran yang saya dapatkan setelah saya mewawancarai Anti..
Saphire calista / 21
walaupun kecil,tapi ia tetap bersyukur
Saat pertama kali kami melihatnya,kami kira Anti adalah orang yang pendiam dan tidak ramah, tapi ternyata dia sangat ramah terhadap kami. Selama kami mewawancarainya,ia selau tersenyum dan tertawa sambil bercerita tentang pekerjaannya.
Saat kami bertanya apakah ia bersyukur dengan pekerjaannya ini,ia mengatakan bahwa ia mensyukuri pekerjaannya, walaupun gajinya hanya sedikit dan pekerjaan ini kurang dipandang oleh orang.
Dia juga bercerita tentang sukaduka dia selama bekerja sebagai cleaning service. “waktu pertaa kali kerja,saya dikerjain sama orang-orang yang lain,kayak disuruh-suruh gitu,hahaha,”kata anti yang bertempat tingga di daerah cilincing ini. “saya bekerja disini sebenarnya untuk mencari pengalaman dulu,baru nanti saya berencana untuk pindah kerja ke tempat lain. Sebenarnya cita-cita saya itu jadi sekertaris akuntan,”tutur anti sambil tertawa karena malu.
Ternyata bekerja sebagai cleaning service tidaklah mudah,seperti yang diceritakan oleh Anti berikut ini,”iya,kerja disini itu capek,soalnya banyak orang yang suka sembarangan dan suka ga menghargai saya. Kayak misalnya mereka membuang tissue bekas dimana-mana,jadi saya harus membersihkan lagi deh. Selain itu, kerja disini kadang ngebosenin,soalnya kita da di dalem wc terus, untung di sini dipasang musik,haha.”
Ternyata menjadi cleaning service tidak semudah yang kita pikirkan,bukan? Namun, kami kagum terhadap Anti, karena ia bias mengerjakan pekerjaannya itu dengan sepenuh hatinya,dia tidak mengeluh walaupun ia sering diperlakuakn tidak adil oleh para customer yang memakai toilet.
Inilah hasil wawancara kami bersama seorang cleaning service bernama Anti.
Terima kasih.
Saphire calista/21
Viola/26
refleksi pribadi claudia (5)
Keadaan Bapak Mustain dan Ibu Nisa, memang tidak seberuntung dibandingkan dengan perantau lainnya, namun dengan keadaan ini saja, mereka sudah cukup bersyukur. Dapat menyekolahkan anak mereka di kampungnya, serta mempunyai pendapatan yang mereka bilang ”alhamdulilah cukuplahh..”sudah membuat mereka dapat bertahan hidup di Jakarta yang keras ini. Dengan melihat keadaan mereka, membuat saya berpikir kembali, bahwa jaman sekarang ini ternyata sangat susah sekali untuk mendapatkan uang yang bisa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Memang banyak sekali pekerjaan yang ada yang dapat kita pilih, tapi apakah itu dapat memenuhi segala kebutuhan kita?
Selain itu saya juga belajar untuk tidak menghambur-hamburkan uang, selama ini saya dengan mudahnya untuk membeli sesuatu dengan tidak berfikir dari mana orangtua saya mendapatkan uang tersebut. Ternyata sangatlah susah sekali untuk menghasilkan uang tersebut. Mendengar penghasilan yang Bapak Mustain dapatkan, saya menjadi bingung . Apa cukup dengan uang segitu dia hidup? Belum lagi ia harus membeli bahan-bahan untuk berjualan lagi. Tapi ternyata itu cukup, mereka hingga dapat menyekolahkan anak mereka di kampung.
Kegigihan dan semangat Pak Mustain dan Ibu Nisa lah yang dapt membuat mereka dapat bertahan hidup, namun itu semua tidak lepas dari campur tangan Tuhan yang selalu membimbing dan menyertai mereka.
Claudia XI IPS 2/5
refleksi pribadi joanita cheniko (15)
Sebagai anak perantauan dari daerah yang hendak mencari keberuntungan di sesak ibukota, mereka cukup beruntung dan sanggup bertahan dari himpitan perekonomian Jakarta. Menurut saya, hal itu disebabkan karena Bapak Mustain dan Ibu Nisa sangat kompak sebagai tim. Mereka saling mendukung satu sama lain, saling berusaha memajukan diri dalam keadaan apapun dan bersama-sama berjuang agar mampu bertahan hidup. Mereka juga jeli melihat keberadaan peluang dan tekun bergelut dalam kesempatan itu.
Mungkin keadaan mereka sekarang lebih menguntungkan dibanding banyak orang yang terhempas dari mimpi akan meraih kesuksesan di ibukota, namun langkah mereka tidak terhenti sampai di sana, mereka tetap ingin terus melangkah maju. Dengan tekad dan segenggam impian mereka ingin selalu berkembang.
Demikian jugalah kita sebagai insan manusia bertindak, selalu bertekad untuk mengembangkan diri, memajukan kemampuan diri sendiri dan terus berusaha agar impian kita tercapai. Juga jangan cepat puas, begitu banyak tantangan hidup yang harus kita lalui, tidak boleh terhenti hanya di satu titik saja. Kita juga harus jeli dalam melihat permasalahan agar dapat menyelesaikannya dengan baik.
Ya, kita harus berjuang dengan cara dan jalan kita masing-masing, menuju ke impian hidup kita, tanpa kalah akan permasalahan yang menghadang. Sebab hidup terlalu indah untuk di sia-siakan.
Joanita Cheniko XI IPS 2_15
reflexi claudia(5) & yoan(15)
Segelas Es Podeng di Tengah Terik Sang Surya

Adalah Mustain dan Nisa, sepasang suami istri yang sehari-hari bekerja dengan berjualan aneka makanan dan minuman segar di pojok sebuah deretan kantin pada pusat kota sibuk Jakarta, tepatnya di sebelah gedung kantor pos ibukota. Pasangan yang berasal dari Pamulang, Jawa Tengah ini menjual aneka makanan yang digoreng seperti, nasi, bihun dan kuetiaw goreng. Ada yang digoreng biasa, ada juga yang spesial pakai tambahan telur goreng dan daging. Hmm, membayangkannya saja sudah membuat perut keroncongan seketika. Selain itu, mereka juga menjual aneka jus dan minuman segar, masih ada lagi yang paling istimewa dan digemari para pembeli yaitu es podengnya yang segar. Bapak Mustain mengaku memang ada resep rahasia untuk es podeng yang satu ini sehingga rasanya berbeda dengan rasa es-es yang lain. Ketika kami mencoba untuk mengetahui apa resep rahasianya, bapak berperawakan kurus tinggi tersebut hanya tersenyum misterius. Wah, jadi penasaran.
Bapak Mustain dan Ibu Nisa dikaruniai dua orang anak, yang pertama kelas 3 SD dan bersekolah di kampung mereka, Pamulang. Sedangkan yang kedua berusia 6 tahun dan tinggal bersama mereka di Jakarta. Ibu Nisa lalu dengan ramah menceritakan perjalanan usaha mereka ketika kami bertanya. Mereka (Bapak Mustain dan Ibu Nisa) suadah berkecimpung dalam kegiatan berjualan makanan dan minuman segar ini sejak 7 tahun yang lalu. 6 tahun lamanya berlokasi di sebelah gedung kesenian Jakarta dan 1 tahun terakhir berlokasi di sini. Sebelumnya, Bapak Mustain terlebih dahulu merantau ke Jakarta dan berjualan ayam bakar dan goreng di daerah sekitar hotel Indonesia. Ibu Nisa mengaku, menyewa tempat di lokasi yang lama (gedung kesenian Jakarta) itu lebih murah dan ramai akan pembeli, dibandingkan dengan lokasi yang sekarang (sebelah gedung pos ibukota) selain lebih mahal, juga cenderung sepi pembeli. Padahal hanya berjarak sedikit saja, namun memang, lokasi yang sekarang lebih di pelosok dan lebih terbatas karena kalangan pembelinya hanya dari karyawan kantor pos saja atau murid-murid sekolah sekitar.
Es podeng sebagai minuman yang paling digemari dan diminati oleh para pembeli, awalnya dipilih Bapak Mustain dan Ibu Nisa sebagai salah satu andalan di kiosnya karena belum ada yang berjualan es serupa pada deretan kantin yang ada di sekitar (diferensiasi produk) sehingga tidak heran es tersebut laris. Namun juga tidak mudah perjalanan yang dirintis dan pengalaman melihat keinginan pasar oleh Bapak Mustain dan Ibu Nisa hingga menemukan produk yang pas bagi para konsumennya. Bapak Mustain masih punya satu impian dalam berdagang, yaitu berjualan ayam bakar di tempat ini (yang kami yakini enak dan pasti laris). Selain memiliki pengalaman, Bapak Mustain juga ingin mengambil kesempatan ini karena belum ada kantin yang berjualan ayam bakar. Namun kendala terbesar adalah tidak adanya ruang untuk membakar ayam. Kios yang di tempati Bapak Mustain dan Ibu Nisa begitu kecil dan padat dan bagian depannya langsung berhadapan dengan jalan tempat berseliweran mobil-mobil pos, ya, memang tidak ada ruang lagi kelihatannya.
Setiap harinya Bapak Mustain dan Ibu Nisa datang ke kios tersebut pukul 07.00 pagi dari rumah, lalu tiba di kios pukul 07.30, kemudian berjualan hingga pukul 18.00. Soal urusan sholat, karena di gedung pos terdapat musholla, maka Bapak Mustain dan Ibu Nisa bergantian menjaga kios. Ketika kami bertanya tentang penghasilan, Ibu Nisa tampak malu-malu dan memandang ke arah Bapak Mustain terus, akhirnya Bapak Mustain menjawab kurang lebih Rp 300.000,00 per hari. Kalau ramai, per hari bisa mencapai Rp 500.000,00, tapi kalau sepi bisa dibawah Rp 300.000,00, tambah Ibu Nisa yang akhirnya angkat bicara. Cukupkah uang sejumlah itu untuk bertahan hidup sehari-hari? “Alhamdulillah, cukup.” jawab Ibu Nisa dengan sigap.
Bapak Mustain dan Ibu Nisa juga menceritakan duka pada pekerjaan mereka, jika musim hujan, pembeli sepi, sedangkan di kala musim kemarau lebih ramai. “Tapi ya, kita coba dulu di sini, dikembangkan, Insyaallah makin laris, ha ha ha...”. Juga ada impian mereka yang lain yaitu, sebagai manusia semakin maju dan membuka cabang di perumahan, yang biasanya lebih laku.
Demikianlah wawancara kami dengan Bapak Mustain dan Ibu Nisa, penjual aneka makanan dan minuman segar di pojok sebuah deretan kantin gedung pos ibukota. Selama wawancara mereka bersikap begitu ramah dan tak jarang wawancara terhenti karena mereka sibuk melayani pesanan. Namun hal yang paling mengejutkan adalah, kejelian mereka melihat peluang dalam ketatnya persaingan ibukota serta keuletan mereka untuk bertahan dan terus maju. Siapa sangka, dibalik kesegaran es podeng, terdapat oase kehidupan yang menyadarkan diri untuk terus berjuang dalam padang pasir kehidupan.
***
Claudia XI IPS 2 _05
Yoan Cheniko XI IPS 2 _15
LAPORAN KATHERINE (16) dan TESSA (25)
Seperti biasa, kami berdua bangun pagi dan mengawali hari ini pada pukul 07.00. kami sudah membuat rencana untuk mewawancara seorang tukang ojek sepeda ontel. Setahu kami, itu hanya ada di Kota (Stasiun Kota-Jakarta Utara) jadi kami akan kesana berdua.
Udara panas ternyata. Waktu masih menunjukan pukul 10 pagi tapi udara lembab dan panas. Usaha kita tidak sia-sia naik bemo dengan dua ribu rupiah seorang dan sesak dengan udara panas serta asap kendaraan yang ’ngepul’. Awalnya kita berpikir tukang ojek sepeda yang kami cari itu sudah jarang dan sulit ditemukan. Ternyata tidak. Kami menemukan banyak sekali disana. Ada yang ’mangkal’ di depan stasiun dan di jalan Pinangsia, ada juga yang berkeliling mencari penumpang. Jadi kami langsung menghampiri satu dari mereka yang nampak tua karena kami berasumsi tua itu berpengalaman.
Kami langsung bertanya banyak hal pada beliau dan ia selalu menjawab dengan ramah. Namanya Pak Parman. Beliau telah menjalankan profesi ini sejak 27 tahun yang lalu, dimana saat itu ojek sepeda sangat diminati dan masih sedikit jumlah motor atau mobil berkeliaran di jalanan. Ketika kami bertanya mengapa beliau terus bergelut dalam profesi ini, kami dibuatnya terkejut. Beliau menjawab,” Keadaan saya yang tidak memungkinkan untuk bekerja yang lain. Kan saya cacat kakinya sejak lahir. ” Kami benar-benar kaget saat itu karena ketika kita berbicara dengan beliau, ia sedang duduk dan mengenakan sepatu boots.
Ia kemudian membuka bootsnya dan kami baru percaya. Kakinya tampak mengecil dan tidak lurus seperti kaki normal. Spontan kami bertanya, tidakkah cacatnya menjadi pengganggu dalam melakukan kegiatan sehari-harinya. Namun Tuhan memang adil. Beliau mengaku tidak terganggu sama sekali dan itu satu-satunya pekerjaan yang bisa ia jalani dengan baik hingga umurnya yang ke-65 tahun. Seketika hati kami terenyuh. Bahkan ada orang setegar dan segiat itu bekerja tanpa menyerah dengan kondisinya yang tidak sempurna secara fisik.
Ada yang lebih hebat lagi. Ia tidak pensiun dari pekerjaannya yang melelahkan itu karena isterinya yang stroke dan terbaring sakit dirumah. Oleh karena itu, ia harus bekerja ekstra supaya anak dan isterinya tidak kelaparan. Anak semata wayang Pak Parman masih belum mendapat pekerjaan dan kami yakin ia tidak bekerja bukan karena malas tetapi karena belum ada kesempatan. Seakan-akan beban hidup tidak kunjung selesai. Pendapatannya dari mengangkut sekitar 20 samapai 30 orang hanya berkisar antara 20 samapai 25 ribu sehari dan harus sangat irit agar semua kebutuhannya terpenuhi. Ia pun tidak mengusahakan usaha sampingan karena ia mengojek mulai pukul 5 pagi hingga pikil 6 sore.
Hari ini kami berdua mendapat satu pelajaran hidup lagi yang sangat berharga. Bersyukurlah dan jadilah pribadi yang tekun dan ulet bekerja dalam keadaan apapun dan seperti apapun diri kita. Mungkin Tuhan ingin kita memperlakukan dan menganggap hambatan, cacat, dan rasa sakit sebagai sebuah tantangan dan Tuhan selalu menyertai anak-anaknya dalam keadaan apapun. Kami terpikir diri kami yang malas dan lebih suka bersenang-senang. Padahal tubuh kami tidak cacat, orangtua kami sekuat tenaga bekerja dan kami cukup menikmatinya, dan kami bisa bersekolah.
Setelah wawancara, kami sebenarnya ingin diantar dengan sepeda itu. Tapi rasanya tubuh kami terlalu berat. Jadi kami melanjutkan perjalanan kami mengelilingi kota tua disana. Masuk keluar musium sambil merenung nilai hidup yang kami dapat hari ini.
Refleksi pribadi TESSA/25
Kisah hidup Pak Parman sangat menginspirasi saya untuk dapat menerima diri saya apa adanya dan untuk selalu mensyukuri apa yang kita miliki. Karena, Tuhan itu adil. Ia tahu apa yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. Hal yang harus kita lakukan hanyalah berusaha melakukan yang terbaik dengan segala keterbatasan kita itu, dan serahkan hasilnya pada Tuhan. Niscaya, kita pun akan menerima hasil yang maksimal bagi diri kita.
Satu hal lagi yang saya pelajari dari kisah hidup Pak Parman, adalah beliau begitu menyayangi keluarganya. Beliau rela bekerja siang malam, mengumpulkan lembar demi lembar ribuan rupiah untuk pengobatan istrinya. Hal tersebut patut kita contoh, karena bagaimanapun keluarga adalah permata yang paling berharga bagi kita.
Oleh : Tessa/XI IPS 2/25